KETERAMPILAN MENGAJAR
KETERAMPILAN MENGAJAR
PENGERTIAN
KETERAMPILAN MENGAJAR
Keterampilan berasal dari kata
terampil yaitu “cakap dalam menyelesaikan; mampu dan kecekatan”.[1]
Menurut bahasa keterampilan adalah kecakapan seseorang untuk memakai bahasa
dalam menulis, membaca, menyimak atau berbicara.[2]
Menurut Ali Imron dalam bukunya Pembinaan
Guru Di Indonesia “keterampilan atau skill dapat dikonotasikan sebagai
sekumpulan pengetahuan dan kemampuan yang harus dikuasai, ia dapat dipelajari,
dideskripsikan diverifikasikan”.[3]
Mengajar merupakan “sebuah cara dan sebuah proses hubungan timbal balik antara
siswa dengan guru yang sama-sama aktif dalam melakukan keagiatan”.[4]
KOMPONEN-KOMPONEN KETERAMPILAN MENGAJAR GURU
Guru merupakan penentu keberhasilan
proses belajar mengajar. Oleh sebab itu, seorang guru harus memiliki beberapa
keterampilan agar tujuan dan manfaat dari proses belajar mengajar dapat
tercapai.
Dalam pendidikan dan pengajaran,
tujuan dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk memberikan rumusan hasil yang
diharapkan dari siswa setelah menyelesaikan pengalaman belajar. Sedangkan manfaat
merupakan pengaflikasiannya dalam kegiatan sehari-hari.
Untuk menjadi guru yang berhasil
dalam mendidik ditekankan dalam melaksanakan interaksi perlu adanya beberapa
keterampilan mengajar.
Adapun menurut Sardiman A.M
komponen-komponen keterampilan mengajar dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:
a.
Aspek
materi
Pada bagian aspek materi ini berhubungan erat
langsung dengan siswa tentang bagaimana usaha yang dilakukan guru agar bahan
pelajaran yang diajarkan dapat menarik perhatian siswa, bagitu juga cara
menyampaikan materi ajar yang runtut dan sistematis sehingga siswa mudah
memahami dan bergairah untuk mempelajarinya seperti interes, titik pusat,
rantai kognitif, kontak, dan penutup.[5]
Untuk lebih jelasnya di bawah ini
akan dipaparkan, sebagai berikut:
1)
Interes,
yang dimaksud dengan interes adalah usaha guru untuk menarik atau membawa
perhatian siswa pada materi pelajaran yang baru.
2)
Titik
pusat adalah semua yang diuraikan, dikemukakan dan dijelaskan oleh guru
benar-benar berpusat pada bahasa yang di
gerap bersama.
3)
Rantai
kognitif adalah aturan-aturan atau sistematis dalam menyampaikan bahan
pelajaran.
4)
Kontak
merupakan hal-hal yang menyangkut hubungan batiniyah antara guru dan siswa
dalam kaitannya dan bahan yang selagi dibahas bersama.[6]
b.
Model
kesiapan
Pada bagian ini akan dibahas mengenai sikap yang
harus diperhatikan guru. Berlangsungnya proses belajar mengajar seperti gerak
yang dilakukan guru pada waktu mengajar dimuka kelas begitu juga suara yang
digunakan, titik perhatian pada materi yang diajarkan, variasi penggunaan media,
variasi interaksi, isyarat verbal, dan waktu selang.[7]
Untuk lebih jelasnya di bawah ini
akan dipaparkan
1)
Gerak;
gerak anggota badan sangat besar manfaatnya untuk mendekatkan pemahaman tentang
yang dibicarakan, sehingga seorang lebih mudah mengerti dengan penjelasan yang
diberikan. Gerak yang baik adalahgerak yang efesien dan efektif. Semakin banyak
indra yang digunakan hasilnya semakin baik pula.
2)
Suara;
yang dimaksud suara disini adalah kekuatan, kekerasan, intonasi suara, tekanan
bicara dan kelancaran bicara. Seseorang guru harus mempunyai kelemah lembutan
dalam menyampaikan pelajaran sehingga siswa senang dalam mendengarkan.
3)
Titik
perhatian, titik perhatian merupakan pengamatan guru terhadap masing-masing
siswa selama interaksi belajar mengajar berlangsung.
4)
Variasi
penggunaan media; alat-alat pengajaran sebagai media komunikasi dapat
dikelompokkan ke dalam tiga golongan, (1) alat-alat yang merupakan benda
sebenarnya yang memberikan pengalaman langsung dan nyata, (2) alat-alat yang
merupakan benda pengganti yang seringkali dalam bentuk tiruan dari benda
sebenarnya, (3) bahasa baik lisan maupun tertulis memberikan pengalaman melalui
bahasa. Variasi interaksi adalah perhatian aksi antara guru dengan siswa
5)
Isyarat
verbal; yang dimaksud isyarat verbal adalah ucapan yang singkat tetapi
mempunyai pengaruh yang besar. Pengaruh tersebut dapat memotivasi dan dapat
pula menghentikan suatu aktivitas siswa baik lahiriah maupun batiniah.
6)
Waktu
selang; merupakan tenggang waktu antara satu pembicaraan dengan pembicaraan
berikut atau suatu kegiatan dengan kegiatan selanjutnya.[8]
Sedangkan menurut Hamzah B. Uno
dalam bukunya Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran model kesiapam
dalam komponen keterampilan mengajar, sebagai berikut:
1)
Suara;
keras lemah, cepat-lambat, tinggi-rendah, besar-kecil suara.
2)
Pemusatan
perhatian; pemusatan perhatian dapat dikerjakan secara verbal, isyarat, atau
dengan menggunakan model
3)
Kesenyapan;
pada saat guru menerangkan sering diperlukan berhenti sejenak secara tiba-tiba.
Kesenyapan macam ini bertujuan meminta perhatian siswa. Ada kalanya kesenyapan
dikerjakan apabila guru akan berpindah dari segmen mengajar satu ke segmen
mengajar yang lain
4)
Kontak
pandang; untuk meningkatkan hubungan dengan siswa dan menghindarkan hal-hal
yang bersifat impersonal, maka kontak pandang perlu dikerjakan selama proses
mengajarnya
5)
Gerakan
badan dan mimik; perubahan ekspresi wajah, gerakan kepala, badan, sangat
penting dalam proses komunikasi
6)
Perubahan
posisi guru; perhatian siswa dapat ditingkatkan melalui perubahan posisi guru
dalam proses interaksi komunikasi.[9]
Sedangkan
menurut Syaiful Bahri Djamarah dalam bukunya Guru dan Anak Didik Dalam
Interaksi Edukatif model kesiapan dalam komponen keterampilan mengajar,
sebagai berikut:
1)
Variasi
suara; intonasi, nada, volume, dan kecepatan. Guru dapat mendramatisasi suatu
peristiwa dengan menunjukkan hal-hal yang dianggap penting, pembicaraan secara
pelan dengan seorang anak didik, atau berbicara secara tajam dengan anak didik
yang kurang perhatian, dan seterusnya.
2)
Penekanan
(focusing); untuk memfokuskan perhatian anak didik pada suatu aspek yang
penting atau aspek kunci, guru dapat menggunakan “penekanan secara verbal”.
3)
Pemberian
waktu (pausing); untuk menarik perhatian anak didik dapat dilakukan dengan
mengubah suasana menjadi sepi, dari suatu kegiatan menjadi tanpa kegiatan/diam.
4)
Kontak pandang; bila guru berbicara atau
berinteraksi dengan anak didik, sebaiknya mengarahkan pandangannya ke seluruh
kelas menatap mata setiap anak didik untuk dapat membentuk hubungan yang
posiitf dan menghindari hilangnya kepribadian.
5)
Gerakan
anggota badan (gesturing); variasi dalam mimic, gerak kepala atau badan
merupakan bagian yang penting dalam komunikasi. Tidak hanya untuk menarik
perhatian saja, tetapi juga menolong menyampaikan arti pembicaraan.
6)
Pindah
posisi; perpindahan posisi guru dalam ruang kelas dapat membantu menarik
perhatian anak didik dan dapat meningkatkan kepribadian guru.[10] KLIK UNTUK BACA SELANJUTNYA
KETERAMPILAN
OPERASIONAL
Keterampilan
operasional merupakan keterampilan dasar mengajar
yang harus dimiliki dan dikuasai oleh guru sehingga dalam interaksi belajar
mengajar guru tidak canggung lagi dalam menghadapi siswa. Keterampilan operasional ini meliputi:
membuka pelajaran, memberikan motivasi dan melibatkan siswa, mengajukan
pertanyaan, menggunakan isyarat non verbal, menanggapi murid, menggunakan
waktu.[11]
Untuk lebih jelasnya, akan
dipaparkan di bawah ini:
1)
Membuka
pelajaran; yang dimaksud dengan membuka pelajaran adalah seberapa jauh
kemampuan guru dalam memulai interaksi belajar mengajar untuk satu jam
pelajaran tertentu. Untuk itu guna harus menguasai bahan yang akan diajarkan
sebab “apabila guru tidak menguasai bahan secara baik, maka timbullah
keraguan-keraguan terhadap apa yang harus dikatakan”.
2)
Memberikan
motivasi dan melibatkan siswa; maksudnya bukan lagi sebagai objek dalam proses
belajar mengajar melainkan sebagai subjek.
3)
Mengajukan
pertanyaan; merupakan perangsang yang mendorong siswa untuk giat berfikir dan
belajar serta membangkitkan pengertian baru.
4)
Menggunakan
isyarat non verbal; adalah gerakan-gerakan dari anggota badan untuk memberikan
gambaran tentang sesuatu untuk menjelaskan maksud yang di ucapkan oleh guru.
5)
Menanggapi
murid; ada tiga kemungkinan tanggapan siswa terhadap interaksi belajar mengajar
yaitu: menerima, acuh tak acuh dan menolak.
6)
Menggunakan
waktu; menggunakan waktu adalah ketetapan guru dalam mengalokasikan waktu yang
tersedia dalam suatu interaksi belajar mengajar.[12]
MACAM-MACAM
KETERAMPILAN MENGAJAR
Adapun macam-macam keterampilan
mengajar, sebagai berikut:
1)
Keterampilan
bertanya
2)
Keterampilan
memberi penguatan
3)
Keterampilan
mengelola kelas
4)
Keterampilan
menjelaskan
5)
Keterampilan
membimbing diskusi kelompok kecil
6)
Keterampilan
mengadakan variasi
7)
Keterampilan
membuka dan menutup pelajaran
8)
Keterampilan
mengajar kelompok kecil dan perseorangan.[13]
KETERAMPILAN MENJELASKAN
Pengertian keterampilan menjelaskan
Keterampilan
menjelaskan dalam pengajaran ialah penyajian informasi secara lisan yang
diorganisasikan secara sistematis untuk menunjukkan adanya hubungan yang satu
dengan yang lain. Misalnya antara sebab dan akibat, defenisi dengan contoh atau
dengan suatu yang belum diketahui menyampaian informasi yang terencana dengan
baik dan disajikan dengan urutan yang cocok merupakan ciri utama kegiatan
menjelaskan. Pemberian penjelasan merupakan salah satu aspek yang amat penting
dari kegiatan guru dalam interaksinya dengan siswa di dalam kelas, dan biasanya
guru cenderung lebih mendominasi pembicaraaan dan mempunyai pengaruh langsung,
misalnya dalam memberikan fakta, ide, ataupun pendapat. Oleh sebab itu, hal ini
haruslah dibenahi untuk ditingkatkan keefektifannya agar tercapai hasil yang
oftimal dari penjelasan dan pembicaraan guru tersebut sehingga bermakna bagi
murid.[14]
Kegiatan
menjelaskan dalam proses belajar mengajar merupakan kegiatan yang mutlak
dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran, karena apapun metode yang
digunakan, materi apa yang disampaikan, apapun jenis sekolah, dan bagaimana
tingkat umur siswa maka kegiatan menjelaskan selalu harus dilaksanakan oleh
guru, hanya saja cara penyampaian dan kualitasnya yang berbeda-beda.
Prinsip-prinsip menjelaskan
Ada
beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam memberikan suatu penjelaskan,
sebagai berikut:
a.
Penjelasan dapat
diberikan selama pembelajaran, baik di awal di tengah maupun di akhir
pembelajaran.
b.
Penjelasan harus
menarik perhatian peserta didik dan sesuai dengan materi standar kompetensi
dasar.
c.
Penjelasan dapat
diberikan untuk menjawab pertanyaan peserta didik atau menjelaskan materi
standar yang sudah direncanakan untuk membentuk kompetensi dasar yang mencapai
tujuan pembelajaran.
d.
Materi yang
dijelaskan harus sesuai dengan kompetensi dasar dan bermakna bagi peserta
didik.
e.
Penjelasan yang
diberikan harus sesuai dengan latar belakang dan tingkat kemampuan peserta
didik.[15]
Sedangkan
menurut E. Mulyasa dalam bukunya Menjadi Guru Professional
Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan prinsip yang harus
diperhahtikan dalam memberikan suatu penjelasan, sebagai berikut:
a. Penjelasan dapat diberikan selama pembelajaran, baik di
awal, di tengah maupun di akhir pembelajaran.
b. Penjelasan harus menarik perhatian peserta didik dan
sesuai dengan materi standar kompetensi dasar.
c. Penjelasan dapat diberikan untuk menjawab pertanyaan
peserta didik atau menjelaskan materi standar yang sudah direncanakan untuk
membentuk kompetensi dasar yang mencapai tujuan pembelajaran.
d. Materi yang dijelaskan harus sesuai dengan kompetensi
dasar, dan bermakna bagi peserta didik.
e. Penjelasan yang diberikan harus sesuai dengan latar
belakang dan tingkat kemampuan peserta didik.[16]
Tujuan memberikan penjelasan
Adapun tujuan memberikan penjelasan, sebagai berikut:
a.
Membimbing siswa
untuk dapat memahami hukum, dalil, fakta, defenisi dan prinsip secara objek dan
bernalar.
b.
Melibatkan siswa untuk
berpikir dan memecahkan masalah-masalah atau pertanyaan.
c.
Untuk mendapatkan
balikan dari murid mengenai tingkat pemahaman dan untuk mengatasi kesalah
pahaman mereka.
d.
Membimbing murid
untuk menghayati dan mendapat proses penalaran dan menggunakan bukti-bukti
pemecahan.[17]
Sedangkan
menurut Moh. Uzer Usman dalam bukunya Menjadi Guru Professional tujuan
memberikan penjelasan, sebagai berikut:
a.
Membimbing murid untuk mendapat dan memahami hukum, dalil, fakta, defenisi dan prinsip secara
objek dan bernalar.
b.
Melibatkan murid untuk berpikir dan memecahkan mesalah-masalah atau
pertanyaan.
c.
Untuk mendapatkan
balikan dari murid mengenai tingkat pemahamannya dan untuk mengatasi kesalahpahaman mereka.
d.
Membimbing murid
untuk menghayati dan mendapat proses penalaran dan menggunakan bukti-bukti dalam pemecahan masalah.[18]
Manfaat menjelaskan
Manfaat
kegiatan menjelaskan ada beberapa manfaat dari kegiatan menjelaskan apabila
dilaksanakan dengan tepat memenuhi sasaran, yaitu:
a.
Dapat membimbing
siswa untuk memahami dengan jelas jawaban, pertanyaan, mengapa, dan mereka
mengajukan dan dikemukakan guru.
b.
Dapat menolong
siswa untuk memahami dan mendapatkan hubungan hukum dalil, dan prinsip umum
dengan contoh sehari-hari secara objektif dan bernalar.
c.
Dapat melibatkan
murid secara aktif ikut berpikir dalam memecahkan masalah dalam proses belajar mengajar.
d.
Untuk mendapatkan
balikan dari siswa mengenai tingkat kesalah pahaman.
e.
Dapat memperjelas
bagi anak untuk menguasai materi yang akan dipelajari
f.
Dapat memotivasi
untuk lebih giat belajar.[19]
Alasan perlunya keterampilan menjelaskan dikuasai guru
Alasan
perlunya keterampilan menjelaskan memberikan penjelasan merupakan salah satu
aspek yang penting dalam perbuatan guru beberapa alasan mangapa keterampilan
menjelaskan perlu sikuasai, yaitu:
a.
Meningkatkan
keefektifan pembicaraan agar benar-benar merupakan penjelasan yang bermakna
bagi siswa karena pada umumnya pembicaraan lebih didominasi oleh guru daripada
oleh siswa.
b.
Penjelasan yang
diberikan oleh guru kadang-kadang tidak jelas bagi muridnya, tetapi hanya jelas
bagi guru sendiri.
c.
Tidak semua guru
dapat menggali sendiri pengetahuan dari buku atau dari sumber lainnya. Oleh
karena itu, guru perlu membantu menjelaskan hal-hal tertentu.
d.
Kurangnya sumber
yang tersedia yang dapat di manfaatkan oleh murid dalam belajar. Guru perlu
membantu murid dengan cara memberikan informasi lisan berupa penjelasan yang
cocok dengan materi yang di perlukan.[20]
Komponen-komponen
keterampilan menjelaskan
Adapun
komponen-komponen keterampilan menjelaskan, sebagai berikut:
a. Perencanaan
Guru perlu membuat
suatu perencanaan yang baik untuk memberikan penjelasan. Sedikitnya ada dua hal
yang perlu diperhatikan dalam perencanaan penjelasan, yaitu isi pesan yang akan
di sampaikan pada peserta didik.
Yang berhubungan
dengan isi pesan (materi standar)
1.
Tentukan garis
besar materi yang akan dijelaskan
2.
Susunlah garis
besar materi tersebut secara sistematis dengan bahasa yang mudah di pahami
peserta didik.
3.
Siapkan alat peraga
untuk memberikan contoh (ilustrasi) yang sesuai dengan garis besar
materi yang akan di sajikan.
Yang berhubung
dengan peserta didik, memberikan suatu penjelasan yang harus dipertimbangkan
siapa yang akan memberikan penjelasan tersebut. Bagaimana kemampuannya, dan
pengetahuan dasar apa yang dimilikinya. Ketika merencanakan penjelasana harus
sudah terbayang kondisi penerima pesan, karena penjelasan berkaitan erat dengan
usia, kemampuan, latar belakang sosial, dan lingkungan belajar.
b. Penyajian
Penyajian suatu
penjelasan dapat ditingkatkan hasilnya dengan memperhatikan hal-hal sebagai
berikut:
1.
Penjelasan
hendaknya diberikan dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh siswa.
2.
Penggunaan contoh
dalam memberikan penjelasan sebaliknya digunakan contoh-contoh yang ada
hubungannya dengan sesuatu yang dapat ditemui oleh siswa dalam kehidupan
sehari-hari.
3.
Pemberian tekanan:
dalam memberikan penjelasan guru harus memutuskan perhatian siswa kepada
masalah pokok yang mengurangi informasi yang tidak begitu penting.
4.
Penggunaan balikan:
guru hendaknya memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan pemahaman,
keraguan, atau tidak mengertinya ketika penjelasan itu diberikan. Hal ini dapat
dilakukan dengan mengajukan pertanyaan.[21]
[1]
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa,
[2] Ibid
[3]
Ali Imran, Pembinaan Guru Di Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1995),
hlm. 86
[4]
Piet A. Suhertian, Profil Pendidik Professional, (Yokyakarta: Andi
Offiet, 1994), hlm. 9
[5]
Sardiman AM, Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Raja Grafindo, 2004), hlm. 195
[6] Ibid,
hlm. 195-199
[7] Ibid,
hlm. 201-205
[8] Ibid,
hlm. 206-210
[9]
Hamzah B. uno, Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran, (Jakarta: PT. Bumi Aksara,
2006), hlm. 172
[10]
Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. (Jakarta: Rineka Cipta,
2000) hlm. 126-127
[11]
Abdul Kadir Munsyi. dkk, Pedoman Mengajar, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1996),
hlm. 162
[12] Ibid,
hlm. 162-163
[13]Ahmad
Sabri, Starategi Belajar Mengajar Dan Micro Teaching, (Jakarta: Quantum
Teaching, 2005), hlm. 82-106
[14]
Soemotono, Dasar-Dasar Interaksi Belajar Mengajar, (Surabaya: Usaha
Nasional, 1993), hlm. 108-109
[15] Ahmad
Sabri, Op. Cit, hlm. 88-89
[16]
E. Mulyasa, Menjadi Guru Professional Menciptakan Pembelajaran Kreatif Dan
Menyenangkan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006), hlm. 80
[17] Syaiful
Bahri Djamarah, Op. Cit. hlm. 131-132
[18] Moh. Uzer Usman, Op, Cit, hlm. 89
[19]
Soemotono, Op, Cit, hlm. 109
[20]
Moh. Uzer Usman, Op. Cit, hlm. 89
[21]
Ahmad Sabri, Op. Cit, hlm. 93-94
Comments
Post a Comment